Penelitian ini menyoroti dampak urbanisasi terhadap meningkatnya jumlah anak “nol-dosis”, yaitu anak yang belum menerima satu pun vaksin DTP1 (Dosis pertama difteri-tetanus-pertusis), terutama di kawasan perkotaan dengan keterbatasan akses layanan. Meskipun kota pada umumnya memiliki fasilitas kesehatan yang lebih mudah dijangkau, kesenjangan sosial dan kondisi permukiman padat tetap menjadi tantangan bagi banyak keluarga.
Studi ini memproyeksikan cakupan vaksinasi hingga tahun 2050 di tujuh negara dengan beban tinggi, termasuk Indonesia, dengan membedakan kelompok masyarakat perkotaan berdasarkan tingkat kesejahteraan untuk memahami kesenjangan secara lebih mendalam. Hasilnya menunjukkan bahwa mempertahankan capaian vaksinasi saat ini saja belum cukup. Jika tren peningkatan saat ini berlanjut, cakupan vaksinasi di Indonesia diperkirakan dapat mencapai 97,0% pada 2050. Namun, jika jumlah anak yang divaksinasi tidak bertambah seiring pertumbuhan populasi, cakupan dapat turun.
Temuan ini menegaskan pentingnya strategi imunisasi yang lebih adaptif dan berorientasi pada pemerataan. Upaya seperti penjangkauan komunitas serta program yang fleksibel di kawasan perkotaan yang rentan menjadi kunci agar setiap anak memperoleh perlindungan kesehatan dasar secara setara menuju 2050.
Selengkapnya: Quilty BJ, Dadari I. Projecting vaccination coverage and zero-dose children in urban populations to 2050: A modeling study. Int J Infect Dis. 2026;167:108676. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.ijid.2026.108676.