Jumat, 6 Februari 2026 | PKMK-Yogyakarta. Efektivitas pelayanan kesehatan anak yang terintegrasi tidak lepas dari peran perawat sebagai salah satu garda terdepan dalam pelayanan kesehatan primer. Pada hari Jumat (6/2/2026), Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) Universitas Gadjah Mada mengadakan Webinar yang bertajuk “Penguatan Peran Perawat dalam Pemeriksaan Kesehatan Anak Terintegrasi (PKAT) dan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) Berbasis Integrasi Layanan Primer (ILP)”. Webinar ini mempertemukan para praktisi kesehatan, pemangku kebijakan, dan akademisi untuk membahas peran strategis perawat dalam memperkuat pelayanan kesehatan anak. Kegiatan yang dipandu oleh Monita Destiwi, M.A. ini bertujuan untuk menyoroti tantangan dan arah masa depan dalam implementasi PKAT dan MTBS dalam kerangka ILP.
Sesi dibuka dengan pemaparan yang komprehensif mengenai transformasi layanan kesehatan primer melalui Integrasi Layanan Primer (ILP) oleh dr. Gregorius Anung Trihadi, MPH, Kepala Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam paparannya, Anung menjelaskan upaya integrasi layanan di tingkat komunitas, penerapan sistem kluster di puskesmas, serta standarisasi layanan kesehatan anak yang dilaksanakan secara berjenjang melalui puskesmas, puskesmas pembantu, dan posyandu. Selain itu, Anung menyoroti masih adanya kesenjangan antara pengetahuan dan praktik dalam pemberian makan bayi dan anak (PMBA), meskipun program Pelayanan Kesehatan Anak Terpadu (PKAT) telah diimplementasikan di Provinsi DIY sejak tahun 2020. Selain itu, implementasi Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) juga dilaporkan menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait rendahnya kepatuhan terhadap standar pelayanan yang telah ditetapkan. Lebih lanjut, dr. Anung menekankan pentingnya peningkatan kapasitas tenaga keperawatan secara berkelanjutan sebagai faktor kunci dalam mendukung keberhasilan implementasi PKAT dan MTBS, khususnya dalam memperkuat mutu layanan kesehatan anak di tingkat pelayanan primer.
Pemaparan materi kedua disampaikan oleh Dr. Fitri Haryanti, S.Kp., M.Kes., dosen Keperawatan Anak FK-KMK UGM, yang membahas integrasi Pelayanan Kesehatan Anak Terpadu (PKAT) dan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Dalam paparannya, Fitri menjelaskan bahwa meskipun PKAT dan MTBS memiliki entry point yang berbeda, keduanya memiliki sejumlah komponen yang saling beririsan, terutama terkait penilaian status gizi dan cakupan imunisasi. Lebih lanjut, disampaikan bahwa perawat memegang peran strategis dalam implementasi kedua pendekatan tersebut, mulai dari sebagai titik kontak pertama layanan, penyedia penilaian holistik, pendidik bagi keluarga, koordinator perawatan lanjutan, hingga manajer rujukan. Namun demikian, implementasi integrasi PKAT dan MTBS masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain keterbatasan sumber daya manusia, variasi kualitas pelatihan, serta kebutuhan akan inovasi dalam model pelatihan dan penguatan sistem informasi guna memastikan integrasi layanan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Sesi pembahasan menghadirkan berbagai wawasan lintas bidang yang memperkaya pemahaman mengenai implementasi layanan kesehatan anak terintegrasi. dr. Wira Hartiti, M.Epid, selaku Ketua Tim Kerja Kesehatan Balita dan Anak Prasekolah Kementerian Kesehatan RI, menekankan pentingnya penguatan kompetensi keperawatan, khususnya dalam deteksi dini dan manajemen penyakit anak, pemantauan kesehatan secara berkelanjutan, serta pelaporan yang sistematis sebagai dasar pengambilan keputusan layanan.
Sejalan dengan hal tersebut, Sri Hartini, S.Kep., Ners., M.Kes., Ph.D, Ketua IPANI DIY, menguraikan lebih lanjut peran strategis perawat dalam klaster layanan ILP. Peran tersebut mencakup tanggung jawab dalam proses pengkajian dan klasifikasi kasus, pemberian edukasi kepada keluarga, serta pelaksanaan perawatan tindak lanjut guna memastikan kesinambungan dan kualitas pelayanan kesehatan anak.
Dari perspektif akademis, Prof. Dr. dr. Mubasysyir Hasanbasri, M.A., Guru Besar FK-KMK UGM, mengangkat isu akses dan kualitas layanan kesehatan balita, khususnya di wilayah pedesaan. Dalam paparannya, Prof. Mubasysyir menekankan pentingnya pendekatan pelayanan yang berorientasi pada kesinambungan perawatan, serta mengusulkan pengembangan model case manager berbasis masyarakat dan pendekatan “satu perawat–satu desa” sebagai strategi untuk menjamin kontinuitas layanan kesehatan anak.
Sementara itu, Anggi Bambang, B.A., Sekretaris TP-PKK DIY, menyoroti peran strategis kader masyarakat dan penguatan literasi kesehatan keluarga dalam mendukung layanan kesehatan anak. Disampaikan pula bahwa kegiatan kunjungan rumah dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk mengatasi berbagai hambatan sosiokultural yang masih memengaruhi akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan anak di tingkat keluarga dan komunitas.
Sesi diskusi berfokus pada strategi untuk menjaga kualitas layanan PKAT dan mencegahnya agar tidak sekadar menjadi aktivitas administratif rutin. Pentingnya pemantauan berkelanjutan, pelatihan penyegaran (refresher training), kolaborasi antarprofesi, serta penggunaan perangkat digital untuk pencatatan dan pelaporan menjadi pembahasan dalam sesi ini. Beberapa model integrasi turut dieksplorasi, termasuk pemberian layanan secara paralel atau komplementer, dengan perawat diposisikan sebagai pelaksana kunci di seluruh rangkaian layanan. Kebutuhan untuk mengadaptasi strategi integrasi dengan konteks lokal dan ketersediaan sumber daya juga turut ditekankan.
Sebagai penutup, webinar ini menegaskan kembali bahwa keberhasilan PKAT dan MTBS tidak hanya bergantung pada standar pelayanan, tetapi juga pada kesiapan perawat, partisipasi aktif masyarakat, serta dukungan berkelanjutan dari sistem kesehatan untuk menjamin kualitas dan kesinambungan layanan kesehatan anak.
Reporter: dr. Garin Frige Janitra (PKMK FK-KMK UGM)