WEBINAR Series #9: Dialog ILP: Perencanaan dan Penganggaran Layanan Primer Berbasis Data dengan Alat Bantu Perhitungan Satuan Biaya Nasional

Latar Belakang

Perencanaan dan penganggaran merupakan komponen penting dalam memastikan bahwa kebutuhan layanan kesehatan dapat diterjemahkan menjadi program dan kegiatan yang efektif, efisien, dan tepat sasaran. Dalam konteks transformasi layanan kesehatan primer melalui Integrasi Layanan Primer (ILP), Puskesmas dan Dinas Kesehatan dituntut untuk mampu menyusun perencanaan yang berbasis data dan kebutuhan riil masyarakat. Namun demikian, dalam praktiknya masih terdapat berbagai tantangan, seperti kesenjangan antara kebutuhan layanan dan alokasi anggaran, keterbatasan kapasitas sumber daya manusia dalam perencanaan, serta pemanfaatan data dan penggunaan tools yang belum optimal secara sistematis dan terstandar.

Sebagai upaya untuk memperkuat proses tersebut, Health Systems Insight (HSI) mengembangkan alat bantu PRASANA (Perhitungan Rencana Anggaran dan Satuan Biaya Nasional) sebagai alat bantu yang mendukung penyusunan perencanaan dan penganggaran layanan kesehatan berbasis kebutuhan secara lebih sistematis, terstruktur, dan rasional. PRASANA memungkinkan estimasi biaya yang lebih akurat dengan mengacu pada satuan biaya nasional, sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan akuntabilitas dalam penggunaan anggaran. Implementasi awal di beberapa daerah menunjukkan potensi besar dalam mendukung penguatan tata kelola pembiayaan di tingkat layanan primer, serta menjadi jembatan antara data kebutuhan layanan dan keputusan penganggaran.

Dalam konteks pemerataan akses layanan kesehatan, alat bantu seperti PRASANA dapat mempertajam perencanaan dan penganggaran sesuai kebutuhan dan prioritas wilayah sehingga mendukung implementasi ILP dan pencapaian target CKG masih belum optimal di banyak daerah. Selain itu, praktik baik yang telah berkembang di berbagai wilayah belum terdokumentasi dan terdiseminasi secara luas sebagai pembelajaran bersama.

Tujuan Umum

Meningkatkan kapasitas Dinas Kesehatan dan Puskesmas dalam pemanfaatan data dalam penyusunan perencanaan dan penganggaran berbasis kebutuhan melalui penggunaan PRASANA.

Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari webinar ini adalah:

  • Memahami konsep dan fungsi alat bantu PRASANA dalam mendukung perencanaan dan penganggaran layanan kesehatan di tingkat Puskesmas dan Dinas Kesehatan.
  • Meningkatkan kemampuan penggunaan PRASANA dalam penyusunan perencanaan dan penganggaran tahunan berbasis kebutuhan layanan.
  • Mengidentifikasi tantangan serta pembelajaran implementasi PRASANA di tingkat daerah sebagai bahan evaluasi dan perbaikan.
  • Mendorong integrasi PRASANA dalam proses perencanaan, penganggaran, dan pengambilan keputusan yang lebih terstandar, efektif, dan berbasis data.
  1. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (Pengelola perencanaan dan keuangan Dinkes)
  2. Kepala dan Tenaga Kesehatan Puskesmas (Pengelola perencanaan dan keuangan Puskesmas, Penanggung jawab program UKM/UKP)
  3. Seluruh tenaga medis dan tenaga kesehatan

Hari/tanggal   : Kamis, 25 Juni 2026

Pukul               : 13.00—15.30 WIB

Tempat            : Online via Zoom Webinar

Waktu Pelaksanaan (WIB)

Materi

Narasumber

12.00–13.00

Registrasi peserta dan Pembukaan

MC

13.00–13.10

Keynote Speech

dr. Elvieda Sariwati, M. Epid

(Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Primer,  Kementerian Kesehatan RI)

13.10–13.20

Pengantar:

Tata Kelola Perencanaan & Penganggaran di Puskesmas

dr. Ni Made Diah Permata Laksmi, MKM

(Ketua Tim Kerja Tata Kelola Puskesmas, Kementerian Kesehatan RI)

13.20–13.25

Prakata oleh Moderator

Moderator:

Ryza Putra (Health Systems Insight)

13.25–13.50

Materi 1:

Dari Program ke Layanan Terintegrasi: Tantangan & Inovasi ILP di Puskesmas Mengenal PRASANA: Tools Perencanaan dan Penganggaran Berbasis Kebutuhan di Puskesmas

Dimas Herlambang (Health Systems Insight)

13.50–14.15

Materi 2:

Implementasi PRASANA di Tingkat Daerah: Pengalaman Puskesmas dalam Penguatan Perencanaan Anggaran

apt. Nisa Maulani Nuraliyah, S.Farm.  (Ketua Mutu dan Pengadaan Barang Jasa, Puskesmas Pasundan, Kabupaten Garut)

14.15–14.40

Materi 3:

Adopsi Prasana di Tingkat Dinas Kesehatan

 

dr. Carlof, M.MRS., MQM

(Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat)

14.40–14.50

Pembahas 1

 

Febriansyah Budi Pratama, SKM, M.E (Ketua Tim Kerja Analisis Kinerja Program JKN, Pusbikes, Kementerian Kesehatan RI)

14.50-15.20

Diskusi

Moderator:

Ryza Putra (Health Systems Insight)

15.20–15.30

Kesimpulan dan Penutup

MC

Akses Kegiatan dan Plataran Sehat 

Informasi link zoom dan Platara Sehat akan diiinformasikan selambat-lambatnya H-1 sebelum kegiatan melalui blasting email yang digunakan saat mendaftar.

Dari Kebijakan ke Aksi: Strategi Penguatan Integrasi Layanan Primer (ILP) dan Perluasan Akses Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Wilayah Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK)

a watercolor painting of a purple background
Latar Belakang

Transformasi sistem kesehatan di Indonesia saat ini menempatkan Integrasi Layanan Primer (ILP) sebagai salah satu pilar utama dalam penguatan pelayanan kesehatan dasar. Pendekatan ini diharapkan mampu menghadirkan layanan yang lebih terintegrasi, berkesinambungan, serta berorientasi pada kebutuhan individu, keluarga, dan masyarakat. Perubahan paradigma dari pendekatan berbasis program menuju layanan terintegrasi menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas pelayanan di tingkat Puskesmas. Namun demikian, implementasi ILP di berbagai daerah masih menunjukkan variasi yang cukup signifikan, baik dari sisi kapasitas daerah, kesiapan sumber daya manusia, sistem pencatatan dan pelaporan, maupun dukungan tata kelola. Di tingkat layanan primer, masih dijumpai fragmentasi layanan serta belum optimalnya koordinasi lintas program dan lintas sektor.

Tantangan implementasi ILP tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mencakup aspek sumber daya dan tata kelola. Keterbatasan jumlah dan kompetensi tenaga kesehatan, distribusi SDM yang belum merata, serta tingginya beban kerja di Puskesmas menjadi hambatan dalam mewujudkan layanan yang terintegrasi. Dari sisi pembiayaan, masih terdapat keterbatasan alokasi anggaran, belum optimalnya integrasi berbagai sumber pendanaan, serta kurangnya fleksibilitas dalam pemanfaatannya. Selain itu, keterbatasan sarana dan prasarana, termasuk infrastruktur digital dan integrasi sistem informasi kesehatan, turut memengaruhi efektivitas layanan. Faktor kepemimpinan dan kapasitas manajerial di tingkat Puskesmas dan Dinas Kesehatan juga menjadi penentu penting dalam mendorong perubahan menuju sistem layanan yang lebih kolaboratif dan terintegrasi.

Di sisi lain, tantangan pemerataan akses pelayanan kesehatan masih menjadi isu krusial, khususnya di wilayah Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK). Kondisi geografis yang sulit dijangkau, keterbatasan infrastruktur, serta distribusi tenaga kesehatan yang belum merata menyebabkan kesenjangan akses dan kualitas layanan antarwilayah. Hal ini berdampak pada belum optimalnya capaian indikator kesehatan, terutama dalam upaya promotif dan preventif di tingkat layanan primer.

Sebagai salah satu strategi untuk memperkuat pendekatan promotif dan preventif, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) hadir untuk meningkatkan deteksi dini faktor risiko dan penyakit di masyarakat. Namun, implementasi CKG di wilayah DTPK memerlukan pendekatan yang lebih kontekstual, fleksibel, dan adaptif, dengan mempertimbangkan kondisi sosial budaya, keterbatasan sumber daya, serta kapasitas sistem kesehatan setempat. Dalam praktiknya, berbagai daerah telah mengembangkan inovasi seperti layanan jemput bola, pemberdayaan kader dan komunitas, serta penguatan jejaring pelayanan sebagai upaya memperluas jangkauan pelayanan.

Meskipun demikian, praktik baik tersebut belum terdokumentasi dan terdiseminasi secara optimal, sehingga peluang pembelajaran antardaerah masih terbatas. Di sisi lain, penguatan peran Dinas Kesehatan dalam mendukung keberlanjutan program, integrasi lintas sektor, serta penyelarasan kebijakan dan implementasi di lapangan masih perlu ditingkatkan.

Dalam konteks ini, penguatan ILP dan perluasan akses CKG di wilayah DTPK menjadi dua pendekatan yang saling melengkapi dalam mendorong transformasi layanan primer. Diperlukan upaya untuk menjembatani kebijakan dengan praktik lapangan melalui strategi yang adaptif, berbasis bukti, dan kontekstual sesuai kebutuhan daerah. Oleh karena itu, webinar ini diselenggarakan sebagai ruang berbagi pembelajaran yang mempertemukan perspektif kebijakan dan pengalaman implementasi di lapangan, guna memperkuat kapasitas pelaksana program, mendorong replikasi praktik baik, serta mempercepat pencapaian pelayanan kesehatan yang lebih merata, terintegrasi, dan berkelanjutan.

Tujuan Umum

Meningkatkan pemahaman dan kapasitas pemangku kebijakan serta pelaksana layanan kesehatan dalam memperkuat implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP) dan mengoptimalkan strategi pencapaian target Cek Kesehatan Gratis (CKG) di wilayah DTPK.

Setelah mengikuti webinar ini, peserta diharapkan mampu:

  1. Mengidentifikasi variasi implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP) dan pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di berbagai daerah, termasuk di wilayah DTPK.
  2. Menganalisis tantangan utama implementasi ILP dan CKG, baik di tingkat Puskesmas maupun Dinas Kesehatan, mencakup aspek SDM, pembiayaan, tata kelola, serta kondisi geografis dan akses layanan.
  3. Menggali praktik baik, inovasi, dan pendekatan adaptif dalam implementasi ILP serta pencapaian target CKG, khususnya di wilayah dengan keterbatasan sumber daya.
  4. Merumuskan strategi penguatan implementasi ILP dan CKG ke depan yang kontekstual, terintegrasi, dan berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan daerah.
  1. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (penanggung jawab program layanan primer)
  2. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (penanggung jawab program layanan primer dan pengelola program kesehatan di wilayah DTPK)
  3. Kepala dan Tenaga Kesehatan di Puskesmas
  4. Seluruh jenis tenaga kesehatan (153 profesi)

Hari/Tanggal: 26 Mei 2026

Waktu: 13.00–17.00

Tempat: Online Via Zoom Meeting

  1. Henny Rista, S.ST., M.Keb 
  2. dr. Made Ratna Dewi 
  3. dr. Yulia Dewi Irawati, M.Sc (FM), Sp.KKLP
  4. Dr. dr. Trihono, M.Sc.  
  5. dr. Aghnaa Gayatri, M.Sc, Ph.D, Sp.KKLP, Subsp.FOMC 
  6.  dr. Hj. Leli Yuliani, M.M
  7. Ismail T Akase, SKM, M.Kes 
  8. dr. Carlof, M.MRS., MQM 
  9. dr. Elvieda Sariwati, M.Epid

Moderator

  1. Retno Puji Subekti
  2. dr. Novie Irawaty Laura Manurung, MPH
  1. Henny Rista, S.ST., M.Keb 
  2. dr. Made Ratna Dewi 
  3. dr. Yulia Dewi Irawati, M.Sc (FM), Sp.KKLP
  4. Dr. dr. Trihono, M.Sc.  
  5. dr. Aghnaa Gayatri, M.Sc, Ph.D, Sp.KKLP, Subsp.FOMC 
  6.  dr. Hj. Leli Yuliani, M.M
  7. Ismail T Akase, SKM, M.Kes 
  8. dr. Carlof, M.MRS., MQM 
  9. dr. Elvieda Sariwati, M.Epid

Moderator

  1. Retno Puji Subekti
  2. dr. Novie Irawaty Laura Manurung, MPH
Waktu PelaksanaanMateriNarasumber
12.00–13.00Registrasi peserta 
13.00–13.05Pembukaan Topik 1

Moderator:

Retno Puji Subekti (Health Systems Insight)

13.05–13.15Materi PengantarKementerian Kesehatan
Sesi Talkshow 1: Dari Kebijakan ke Praktik: Tantangan, Peluang, dan Strategi Penguatan Implementasi ILP di Puskesmas
13.15–13.40

Materi 1:

Layanan Terintegrasi untuk Keluarga: Tantangan & Inovasi ILP di Puskesmas

Henny Rista, S.ST., M.Keb (Kepala Puskesmas Pidie, Kabupaten Pidie)

MATERI

13.40–14.05

Materi 2:

Layanan Terintegrasi untuk Keluarga: Tantangan & Inovasi ILP di Puskesmas

dr.Made Ratna Dewi (Kepala Puskesmas Abiansemal 1, Kabupaten Badung)

MATERI

14.05–14.30

Materi 3:

Layanan Terintegrasi untuk Keluarga: Tantangan & Inovasi ILP di Puskesmas

dr. Yulia Dewi Irawati, M.Sc (FM), Sp.KKLP (Puskesmas Jetis 2, Kabupaten Bantul)

MATERI

14.30–14.40

Pembahas 1:

Penguatan Kebijakan dan Desain Sistem dalam Implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP)

Dr. dr. Trihono, M.Sc. (Health Systems Insight)

MATERI

14.40–14.50

Pembahas 2:

Optimalisasi Layanan Terintegrasi dalam Penanganan Penyakit Kronis dan Komorbiditas di Puskesmas

dr. Aghnaa Gayatri, M.Sc, Ph.D, Sp.KKLP, Subsp.FOMC. (Dosen di Departemen Kedokteran Keluarga dan Komunitas, FKKMK UGM)
14.50–15.00Sesi Diskusi 
Sesi Talkshow 2: Dari Tantangan ke Aksi: Strategi Daerah dan Praktik Mencapai Target CKG di Wilayah DTPK
15.00–15.05Pembukaan Topik 2

Moderator:

dr. Novie Manurung, MPH (Health Systems Insight)

15.05–15.30

Materi 4:

Strategi Daerah dalam Memperluas Akses CKG di Wilayah DTPK: Studi kasus Dinas Kesehatan Kab. Garut

dr. Hj. Leli Yuliani, M.M (Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut)

MATERI

15.30–15.55

Materi 5:

Strategi Daerah dalam Memperluas Akses CKG di Wilayah DTPK: Studi kasus Dinas Kesehatan Kab. Gorontalo

Ismail T Akase, SKM, M.Kes (Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo)

MATERI

15.55–16.20

Materi 6:

Strategi Daerah dalam Memperluas Akses CKG di Wilayah DTPK: Studi kasus Dinas Kesehatan Kab. Sumbawa Barat

dr. Carlof, M.MRS., MQM (Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat)

MATERI

16.20–16.30

Pembahas 3 :

Strategi Implementasi Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Wilayah DTPK: Dari Tantangan Sistem hingga Dampak Klinis di Layanan Primer

dr. Elvieda Sariwati, M.Epid (Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Primer, Kemenkes)
16.30–16.50Sesi Diskusi 
16.50–17.00Kesimpulan dan Penutup 

Konten            : Firda / 0895620105789

Kepesertaan    : Ubaid / 083171487852

 

PUSAT KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN KESEHATAN

Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan

Universitas Gadjah Mada

Gedung Litbang FK-KMK Jl. Medika Yogyakarta 55281

Telp/Fax: 0274 – 549425 Website: https://diklatkesehatan.net/

 

PKMK FK-KMK UGM bekerja sama dengan Direktorat Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Primer Kementerian Kesehatan RI dan Health Systems Insight (HSI) menyelenggarakan Webinar Series #7 bertajuk “Strategi Penguatan Integrasi Layanan Primer (ILP) dan Perluasan Akses Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Wilayah Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK)” pada Selasa (26/5/2026) secara daring.

Kegiatan dibuka oleh dr. Elvieda Sariwati, M.Epid., Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Primer Kementerian Kesehatan RI, yang dalam keynote speech-nya menegaskan bahwa wilayah Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK) memerlukan strategi khusus dalam penguatan layanan kesehatan primer yang kontekstual, adaptif, dan sesuai kebutuhan daerah. dr Elvienda menekankan pentingnya adopsi praktik baik berbasis bukti yang dapat disesuaikan dengan tantangan lokal masing-masing wilayah. Webinar ini menjadi ruang berbagi pengalaman, inovasi, dan praktik baik dalam implementasi ILP serta perluasan akses layanan promotif dan preventif, termasuk melalui program CKG. Melalui forum ini diharapkan dihasilkan rekomendasi konkret untuk memperkuat implementasi ILP serta memperluas akses layanan kesehatan dasar yang lebih merata bagi masyarakat, khususnya di wilayah DTPK.

VIDEO

 

Sesi Pertama

Sesi pertama webinar bertajuk “Dari Kebijakan ke Praktik: Tantangan, Peluang, dan Strategi Penguatan Implementasi ILP di Puskesmas” dimoderatori oleh Retno Pujisubekti, SKM., M.Sc. dari Health Systems Insight. Pada sesi ini, dr. Rima Damayanti, M.Kes., selaku Ketua Tim Kerja ILP Direktorat Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Primer Kementerian Kesehatan RI, menekankan pentingnya penguatan pelayanan kesehatan berbasis siklus hidup yang terintegrasi dari Puskesmas hingga Posyandu. Implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP) difokuskan pada penguatan layanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang lebih dekat dengan masyarakat, serta didukung pemanfaatan data dan jejaring layanan kesehatan. Hingga 20 Mei 2026, ILP telah diimplementasikan di 8.903 Puskesmas. Sementara itu, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sepanjang 2025 telah menjangkau lebih dari 73 juta masyarakat sebagai upaya memperluas akses layanan kesehatan primer di Indonesia.

VIDEO

Paparan pertama disampaikan oleh Henny Rista, S.ST., M.Keb., Kepala Puskesmas Pidie, yang membagikan pengalaman implementasi ILP di Kabupaten Pidie, Aceh. Berbagai tantangan yang dihadapi meliputi belum optimalnya peran kader, kesulitan integrasi data, orientasi masyarakat yang masih kuratif, lemahnya koordinasi lintas sektor, serta keterbatasan SDM dari segi jumlah, beban kerja, dan kompetensi. Selain itu, terdapat kendala pada tata kelola, pembiayaan, sistem informasi yang belum terintegrasi, serta kondisi geografis wilayah. Inovasi yang dikembangkan antara lain ILP bergerak, pemetaan keluarga berisiko, dan kader sahabat keluarga. Sebagai tindak lanjut, disusun strategi yang mencakup penguatan SDM, integrasi sistem informasi, dukungan kebijakan daerah, pembiayaan fleksibel, serta kolaborasi lintas sektor. Strategi tersebut akan dilakukan secara bertahap melalui penguatan internal dan kolaborasi eksternal untuk mendukung keberlanjutan implementasi ILP.

MATERI          VIDEO

Paparan praktik baik oleh dr. Made Ratna Dewi, Kepala Puskesmas Abiansemal 1, menyoroti implementasi layanan ILP yang telah terintegrasi di tingkat desa di Kabupaten Badung. Pelayanan dilaksanakan berbasis siklus hidup melalui kegiatan dalam dan luar gedung serta didukung akses masyarakat melalui aplikasi Nak Badung Sehat. Pada desa dengan Pustu, kunjungan rumah dikoordinasikan oleh penanggung jawab Pustu dan dilaksanakan bersama kader ILP serta kader posyandu, sedangkan pada desa tanpa Pustu dikoordinasikan oleh penanggung jawab desa dengan pelibatan darbin, pelaksana klaster, dan kader posyandu. Penguatan layanan juga mencakup integrasi home care untuk kasus kronis, digitalisasi layanan, serta kolaborasi lintas fasilitas dan layanan swasta. Capaian ini didukung oleh pelaksanaan layanan berbasis klaster, posyandu terintegrasi, ketersediaan tenaga kesehatan dan kader, serta sistem pemantauan kinerja ILP yang terus diperkuat.

MATERI        VIDEO

Paparan oleh dr. Yulia Dewi Irawati, M.Sc (FM), Sp.KKLP menekankan pentingnya pendekatan kedokteran keluarga dalam implementasi ILP, dimana layanan primer tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga penguatan deteksi dini faktor risiko serta kesinambungan pelayanan kesehatan keluarga. Pendekatan ini diperkuat melalui berbagai inovasi berbasis komunitas yang berfokus pada pengendalian hipertensi melalui skrining, edukasi, kunjungan rumah, serta keterlibatan aktif keluarga dan masyarakat. Penguatan layanan juga dilakukan melalui kartu kendali hipertensi, gerak dialog family meeting, rekam medis holistik, serta integrasi pendekatan budaya seperti pemanfaatan jamu, akupresur, dan toga. Upaya tersebut memperkuat peran dokter keluarga dalam pelayanan promotif, preventif, serta keberlanjutan perawatan di komunitas.

MATERI       VIDEO

Pada sesi pembahas, Dr. dr. Trihono, M.Sc. menekankan bahwa keberhasilan Implementasi Integrasi Layanan Primer (ILP) ditentukan oleh penguatan Indeks Keluarga Sehat (IKS), yang mencakup indikator perilaku hidup bersih dan sehat, kepesertaan JKN, serta kepatuhan pengobatan penyakit kronis. Dalam implementasi ILP, disampaikan apresiasi kepada tiga Puskesmas penyaji atas penguatan layanan berbasis kebutuhan, termasuk optimalisasi Poskesdes di Puskesmas Pidie serta layanan terintegrasi seperti Posbindu UKK, Posyandu, layanan disabilitas, dan kesehatan jiwa di Puskesmas Jetis II. Ke depan, tantangan utama adalah memastikan roadmap ILP dapat berjalan merata di seluruh desa dan posyandu.

MATERI        VIDEO

Sementara itu, dr. Aghnaa Gayatri, M.Sc, PhD, Sp.KKLP, Subsp.FOMC menekankan bahwa implementasi ILP merupakan perubahan paradigma dari pendekatan berbasis program menjadi berbasis siklus hidup yang menuntut penyesuaian dengan konteks wilayah. Tantangan di lapangan dipandang sebagai sumber inovasi dalam penguatan layanan yang lebih kontekstual, mengingat pelayanan kesehatan harus berangkat dari karakteristik demografi, sosial, budaya, serta faktor risiko masyarakat setempat. Oleh karena itu, penguatan jejaring dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci, karena puskesmas tidak dapat bekerja sendiri dalam menghadapi determinan kesehatan yang bersifat multidimensi. ILP juga selaras dengan prinsip kedokteran keluarga yang menekankan pelayanan komprehensif, kontinu, terkoordinasi, serta berorientasi pada individu, keluarga, dan komunitas sepanjang siklus hidup. Dalam implementasinya, Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) menjadi instrumen penting, tidak hanya untuk mencatat cakupan layanan, tetapi juga memastikan tindak lanjut hasil skrining berjalan berkesinambungan dan memberikan dampak nyata bagi kesehatan masyarakat.

 VIDEO

 

Sesi Kedua

Sesi kedua webinar mengangkat tema “Dari Tantangan ke Aksi: Strategi Daerah dan Praktik Mencapai Target CKG di Wilayah DTPK” yang dimoderatori oleh dr. Novie Manurung, MPH. Diskusi pada sesi ini berfokus pada pengalaman daerah dalam memperluas akses CKG di wilayah dengan keterbatasan geografis dan sumber daya.

Hj. Leli Yuliani, M.M. memaparkan strategi Kabupaten Garut dalam memperluas cakupan Cek Kesehatan Gratis (CKG) melalui penguatan jejaring layanan, perubahan mindset dari pengobatan gratis menjadi skrining kesehatan, serta integrasi layanan CKG dalam dan luar gedung. Sosialisasi dilakukan secara luas kepada masyarakat, ormas, lembaga, hingga kegiatan reses, sehingga mendorong permintaan aktif pelaksanaan CKG di berbagai momentum komunitas. Integrasi ILP dan CKG diperkuat melalui skrining di puskesmas, posyandu siklus hidup, serta kegiatan terintegrasi seperti ORI Campak dan Gebyar CKG ibu hamil. Penguatan juga dilakukan melalui evaluasi mingguan capaian, pemberian apresiasi pada puskesmas berprestasi, serta pembagian tugas entri secara merata di seluruh tenaga kesehatan untuk memperkuat pelaporan. Strategi khusus juga diterapkan untuk sasaran usia sekolah, dewasa, dan lansia melalui pendekatan berbasis sekolah, komunitas, SKPD, posyandu, serta berbagai momentum layanan lainnya guna meningkatkan capaian secara signifikan.

MATERI         VIDEO

Selanjutnya, Ismail T. Akase, SKM., M.Kes., Kadinkes Kabupaten Gorontalo, menjelaskan bahwa keberhasilan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sangat ditentukan oleh strategi implementasi yang tepat sasaran, adaptif terhadap kondisi geografis, serta didukung keterlibatan lintas pemangku kepentingan. Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo menerapkan pendekatan multi strategi melalui penguatan Tim Kesehatan Keliling (Mobile Health Unit) untuk menjangkau wilayah terpencil dengan tenaga medis lengkap dan peralatan diagnostik portabel, pemberdayaan kader kesehatan desa sebagai ujung tombak layanan CKG di komunitas, serta pemanfaatan sistem informasi kesehatan digital berbasis aplikasi Android untuk pencatatan dan pelaporan real time yang terintegrasi. Keberhasilan program juga diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor dengan pemerintah desa, organisasi masyarakat, sektor swasta, dan lembaga lainnya guna memastikan keberlanjutan program serta penguatan dukungan sumber daya dan kebijakan di tingkat lokal.

MATERI        VIDEO

Paparan terakhir disampaikan oleh dr. Carlof, M.MRS., MQM yang membagikan pengalaman penguatan layanan kesehatan primer melalui integrasi program dan tata kelola pelayanan di daerah. Penguatan dilakukan melalui inovasi Kartu Sumbawa Barat Maju berbasis kartu keluarga sebagai implementasi SPBE dan smart city yang mengintegrasikan akses layanan kesehatan berbasis digital, serta pengembangan layanan TRC ambulans untuk layanan panggilan masyarakat yang sakit ke rumah, sekaligus melakukan CKG bagi anggota keluarganya. Pendekatan ini memperkuat koordinasi layanan, mempercepat akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, serta mendukung integrasi sistem kesehatan primer yang lebih efektif dan responsif di tingkat daerah.

MATERI        VIDEO

Sebagai pembahas akhir, dr. Pramutia Haryati Harirama, M.K.K., Direktorat Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Primer Kementerian Kesehatan RI, menekankan bahwa keberhasilan implementasi Cek Kesehatan Gratis (CKG) memerlukan strategi yang adaptif sesuai konteks daerah serta dukungan kebijakan kepala daerah dan Dinas Kesehatan. CKG diposisikan sebagai indikator kinerja daerah dan diintegrasikan dengan implementasi ILP melalui kolaborasi lintas sektor, kemitraan swasta, serta dukungan pembiayaan APBD untuk sarana prasarana, alat kesehatan, BMHP, transportasi, dan perangkat digital. Penguatan juga dilakukan melalui peningkatan kapasitas SDM, pembagian tugas yang efektif, serta integrasi kegiatan CKG dengan agenda komunitas dan pemerintah daerah untuk memperluas jangkauan sasaran. Di wilayah terpencil, implementasi didukung melalui tim kesehatan keliling, penguatan kader desa, serta pemanfaatan sistem informasi digital dan jejaring kemitraan. Pelaksanaan juga diperkuat melalui evaluasi rutin mingguan, pemberian apresiasi kepada Puskesmas berprestasi, serta integrasi dengan berbagai inovasi layanan kesehatan lainnya.

  VIDEO

Sebagai penutup, webinar ini menjadi ruang pembelajaran bersama untuk mengidentifikasi variasi implementasi ILP dan pelaksanaan CKG di berbagai daerah, termasuk wilayah DTPK, serta menganalisis tantangan pada aspek sumber daya manusia, pembiayaan, tata kelola, dan akses geografis layanan kesehatan. Berbagai praktik baik, inovasi, dan pendekatan adaptif yang dipaparkan menunjukkan bahwa penguatan layanan primer dapat dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor, optimalisasi jejaring layanan, serta kepemimpinan daerah yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Melalui diskusi dan pertukaran pengalaman antardaerah, webinar ini diharapkan dapat mendorong perumusan strategi penguatan implementasi ILP dan CKG yang lebih kontekstual, terintegrasi, dan berkelanjutan untuk mendukung transformasi layanan kesehatan primer yang merata dan berkualitas di seluruh Indonesia.

Reporter: Ghofur H. (PKMK FK-KMK UGM)

Penguatan Peran Perawat dalam Pemeriksaan Kesehatan Anak Terintegrasi (PKAT) & Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) Berbasis Integrasi Layanan Primer (ILP)

Jumat, 06 Februari 2026

Latar Belakang

Kesehatan anak merupakan salah satu indikator utama keberhasilan pembangunan kesehatan. Namun, penyakit infeksi, masalah gizi, serta keterlambatan deteksi tumbuh kembang masih menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian balita di Indonesia. Kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan pelayanan kesehatan anak yang terintegrasi, komprehensif, dan berkesinambungan di tingkat pelayanan kesehatan primer.

Sejalan dengan arah kebijakan Integrasi Layanan Primer (ILP) yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, penguatan pelayanan kesehatan anak di tingkat pelayanan primer dilaksanakan melalui berbagai pendekatan terintegrasi, diantaranya Pemeriksaan Kesehatan Anak Terintegrasi (PKAT) dan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). PKAT berperan sebagai skrining komprehensif untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan, status gizi, serta status imunisasi, sekaligus melakukan deteksi dini faktor risiko kesehatan pada anak sehat maupun berisiko. Sementara itu, MTBS merupakan pendekatan standar dalam penatalaksanaan balita sakit melalui klasifikasi klinis sederhana, tatalaksana awal yang tepat, konseling keluarga, serta pengambilan keputusan rujukan. Dalam kerangka ILP, PKAT dan MTBS tidak dilaksanakan secara terpisah, melainkan menjadi satu rangkaian pelayanan kesehatan anak yang saling melengkapi dan berkesinambungan.

Perawat Puskesmas dan Puskesmas Pembantu (Pustu) memiliki peran strategis dalam pelaksanaan PKAT dan MTBS berbasis ILP karena berinteraksi langsung dan berkelanjutan dengan anak dan keluarga, mulai dari skrining dan deteksi dini, tatalaksana awal, edukasi dan konseling, pendampingan kader Posyandu, hingga koordinasi tindak lanjut pelayanan. Namun, implementasi ILP menghadapi tantangan berupa keterbatasan SDM keperawatan yang berdampak pada meningkatnya beban kerja akibat penambahan kegiatan skrining, pendampingan kader, serta pencatatan dan pelaporan terintegrasi tanpa dukungan tenaga yang memadai. Tantangan ini diperberat oleh keterbatasan tenaga kesehatan secara umum terutama di daerah terpencil dan akses geografis sulit, variasi penambahan kompetensi kader Posyandu, adaptasi terhadap alur pelayanan baru, keterbatasan sarana prasarana, sistem pencatatan dan pelaporan yang belum optimal, keterbatasan anggaran untuk operasional dan pelatihan berkelanjutan, serta masih rendahnya pemahaman masyarakat terhadap alur pelayanan ILP.

Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan suatu kegiatan penguatan peran dan kapasitas perawat yang terencana dan berbasis kebijakan untuk mendukung integrasi pelaksanaan PKAT dan MTBS dalam kerangka ILP di Puskesmas dan Pustu, melalui peningkatan kompetensi, pemahaman alur pelayanan, serta dukungan implementasi di lapangan. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas, efektivitas, dan keberlanjutan pelayanan kesehatan anak sesuai arah kebijakan nasional pelayanan kesehatan primer.


 

Tujuan Kegiatan

Tujuan Umum

Meningkatkan peran dan kapasitas perawat dalam pelaksanaan Pemeriksaan Kesehatan Anak Terintegrasi (PKAT) dan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) berbasis Integrasi Layanan Primer (ILP) guna memperkuat kualitas dan kesinambungan pelayanan kesehatan anak di tingkat pelayanan kesehatan primer.

Tujuan Khusus

  1. Meningkatkan pemahaman perawat mengenai konsep dan prinsip integrasi PKAT dan MTBS dalam kerangka Integrasi Layanan Primer (ILP).
  2. Memperkuat kemampuan perawat dalam melaksanakan pemantauan kesehatan serta tumbuh kembang anak melalui deteksi dini dengan pemanfaatan Buku KIA
  3. Meningkatkan keterampilan perawat dalam melakukan deteksi dini penyakit dan kesakitan pada anak serta penerapan MTBS sesuai kewenangan praktik keperawatan.
  4. Meningkatkan kemampuan perawat dalam melakukan deteksi dini dan pencegahan gangguan pertumbuhan anak, meliputi berat badan tidak naik (T), berat badan kurang, stunting, wasting, dan obesitas.
  5. Meningkatkan keterampilan perawat dalam melakukan deteksi dini dan pencegahan gangguan perkembangan anak, termasuk gangguan penglihatan, pendengaran, dan perkembangan motorik.
  6. Memperkuat peran perawat dalam evaluasi dan edukasi terkait pemberian ASI eksklusif, MP-ASI, suplementasi vitamin A, serta kelengkapan imunisasi sebagai bagian dari pelayanan promotif dan preventif.
  7. Meningkatkan kapasitas perawat dalam memberikan edukasi dan konseling kepada ibu atau pengasuh untuk mendukung praktik pengasuhan yang optimal bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak.
  8. Memperkuat pelaksanaan pelayanan kesehatan anak lintas program melalui pemanfaatan Buku KIA secara terintegrasi dalam kerangka PKAT dan MTBS.
  9. Mendorong penguatan kerjasama lintas profesi dan lintas sektor dalam pemantauan kesehatan dan tumbuh kembang anak, konseling individu, dan tindak lanjut pelayanan.

 

Sasaran Peserta

  1. Perawat Puskesmas dan Pustu
  2. Penanggung Jawab Program KIA/Gizi/Imunisasi Puskesmas
  3. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (Bidang Kesehatan Masyarakat/ Kesehatan Keluarga)
  4. Dosen, Mahasiswa, dan Praktisi Perawat, Bidan, Dokter, Ahli Gizi.
  5. Kader Kesehatan dan PKK

 

Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada:

  • Hari, tanggal               : Jumat, 06 Februari 2026
  • Tempat                        : Daring melalui Zoom Meeting
  • Pukul                            : 13.00 – 15.00 WIB

 

Materi

  1. Penguatan Peran Perawat dalam Integrasi PKAT dan MTBS Berbasis ILP
  2. Integrasi PKAT dan MTBS dalam Praktik Keperawatan Anak Berbasis ILP

 

Narasumber

  1. Endang Pamungkasiwi, SKM, M.Kes (Kabid Kesmas Dinas Kesehatan Provinsi DIY)
  2. Fitri Haryanti, S.Kp., M.Kes. (Dosen Keperawatan Anak FK-KMK UGM)

 

Pembahas

  1. Lovely Daisy (Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga, Kemenkes RI)
  2. Sri Hartini, S.Kep., Ners., M.Kes., Ph.D (Ketua IPANI DIY)
  3. Dr. dr. Mubasysyir Hasan Basri, MA. (Guru Besar FK-KMK UGM)
  4. Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam (Wakil Ketua TP-PKK DIY)

 

Rundown Kegiatan

Waktu (WIB) Topik PIC/narasumber
13.00-13.05 Pembukaan oleh MC MC
13.05-13.10 Pengantar oleh moderator Moderator
13.10-13.30 Materi 1:Penguatan Peran Perawat dalam Integrasi PKAT dan MTBS Berbasis ILP

 Endang Pamungkasiwi, SKM, M.Kes. (Kabid KesmasDinas Kesehatan Provinsi DIY)

Materi

13.30-13.50 Materi 2:Integrasi PKAT dan MTBS dalam Praktik Keperawatan Anak Berbasis ILP

 Dr. Fitri Haryanti, S.Kp., M.Kes.(Dosen Keperawatan AnakFK-KMK UGM)

Materi

13.50-14.20 Pembahasan

Pembahas

Materi

14.20-14.55 Sesi Diskusi Moderator
14.55-15.00 Penutup MC

 


Narahubung Kepesertaan

Ubaid (083872047127)

 


Biaya Kepesertaan